Hardiknas Magetan Meriah, Tapi Pendidikan Tak Cukup Hanya Seremonial
LAWUTV.COM MAGETAN — Ribuan guru dari jenjang PAUD, SD hingga SMP memadati Alun-Alun Magetan dalam gelaran tari massal Lenggang Mageti pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Senin (25/5/2026). Sebanyak 2.026 peserta ikut menari bersama sebagai simbol semangat pendidikan dan pelestarian budaya lokal.
Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Magetan, bekerjasama dengan MKKS tersebut memang layak diapresiasi. Selain melibatkan guru negeri dan swasta, acara juga diwarnai berbagai lomba kreatif seperti menulis surat untuk bupati, melengkapi gambar, hingga jurnalistik award tingkat SMP.
Namun di balik kemeriahan panggung Hardiknas, ada pertanyaan besar yang perlu dijawab bersama: apakah pendidikan di Kabupaten Magetan sudah benar-benar bergerak menuju kualitas yang merata?
Tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua”, seharusnya tidak berhenti sebagai slogan seremonial tahunan.
Pendidikan bermutu bukan hanya soal panggung tari, lomba, atau kegiatan simbolik. Pendidikan bermutu adalah ketika seluruh anak di pelosok Magetan mendapatkan hak belajar yang sama, guru mendapatkan kesejahteraan dan pelatihan yang layak, serta sekolah memiliki fasilitas yang memadai.
Realitanya, masih banyak persoalan pendidikan di Magetan yang perlu menjadi perhatian serius. Mulai dari fasilitas sekolah di daerah pinggiran yang belum merata, minimnya ruang kreativitas siswa, hingga tantangan dunia digital yang belum diimbangi penguatan karakter dan literasi.
Di sisi lain, kreativitas para guru dan siswa sebenarnya luar biasa. Hal itu terlihat dari antusiasme kegiatan Hardiknas tahun ini. Sayangnya, potensi tersebut sering kali hanya muncul saat momentum perlombaan atau peringatan tertentu. Setelah acara selesai, ruang pengembangan bakat kembali terbatas.
Pemerintah daerah melalui Dikpora perlu menjadikan Hardiknas bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum evaluasi total dunia pendidikan. Kritik yang muncul harus diterima sebagai bahan perbaikan, bukan dianggap serangan.
Ada beberapa langkah yang bisa menjadi solusi nyata bagi pendidikan Magetan ke depan.
Pertama, pemerataan kualitas pendidikan hingga wilayah pelosok harus menjadi prioritas utama. Sekolah di desa tidak boleh tertinggal fasilitas maupun kualitas pengajarnya dibanding sekolah perkotaan.
Kedua, penguatan literasi digital dan jurnalistik pelajar perlu diperluas. Di era media sosial saat ini, siswa tidak cukup hanya pintar akademik, tetapi juga harus mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan berani menyampaikan gagasan secara positif.
Ketiga, pemerintah perlu membuka lebih banyak ruang kreativitas bagi guru dan siswa sepanjang tahun, bukan hanya saat peringatan nasional. Kegiatan seni, budaya, jurnalistik, hingga kewirausahaan pelajar harus menjadi program berkelanjutan.
Keempat, kesejahteraan dan pengembangan kapasitas guru juga harus menjadi perhatian. Guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi ujung tombak pembentukan karakter generasi masa depan Magetan.
Kemeriahan tari Lenggang Mageti di Alun-Alun Magetan memang menjadi simbol kebersamaan insan pendidikan. Namun semangat Hardiknas sejatinya bukan hanya tentang menari bersama, melainkan bergerak bersama memperbaiki kualitas pendidikan secara nyata.
Karena pendidikan yang baik tidak lahir dari seremoni semata, tetapi dari keberanian memperbaiki kekurangan dan kesungguhan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Magetan.

Tidak ada komentar