• Breaking News

    Jagung SPHP Harus Tepat Sasaran, Peternak Magetan Jangan Kembali Menjerit




    LAWUTVMAGETAN 
    Program penyaluran jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang mulai dijalankan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Kabupaten Magetan patut diapresiasi. Di tengah kondisi harga telur yang terus melemah, sementara biaya pakan masih tinggi, kehadiran jagung SPHP menjadi harapan baru bagi ribuan peternak ayam petelur di Magetan agar tetap bisa bertahan menjalankan usahanya.(9/5/26)

    Tidak berlebihan jika Magetan dipilih menjadi lokasi perdana penyaluran nasional. Kabupaten ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sentra telur terbesar di Jawa Timur. Ribuan peternak rakyat menggantungkan hidup dari sektor ini.

    Produksi telur dari Magetan bahkan ikut menopang kebutuhan pangan di berbagai daerah lain.
    Karena itu, ketika harga telur jatuh dan harga pakan melambung, dampaknya langsung terasa pada ekonomi masyarakat bawah. Banyak peternak kecil harus menanggung kerugian berbulan-bulan. 

    Bahkan tidak sedikit yang terpaksa menjual ternak atau menghentikan produksi karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil penjualan telur.
    Program jagung SPHP dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 di tingkat peternak tentu menjadi angin segar. Kebijakan ini setidaknya mampu sedikit menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban terbesar peternak.

    Namun program ini tidak boleh berhenti sebatas seremoni pelepasan truk atau kunjungan pejabat semata. Pemerintah pusat, daerah, Bulog, koperasi, hingga asosiasi peternak harus benar-benar memastikan penyaluran berjalan tepat sasaran dan merata. Jangan sampai jagung subsidi justru bocor ke pihak lain atau dimainkan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan.

    Peternak kecil dan mandiri harus menjadi prioritas utama penerima manfaat. Sebab merekalah kelompok yang paling rentan ketika terjadi gejolak harga. Jika distribusi tidak adil, maka keresahan di kalangan peternak akan kembali muncul.

    Kondisi pasar saat ini memang belum ideal. Harga telur sering kali jatuh di bawah biaya produksi, sementara harga bahan baku pakan bergerak naik. Ketimpangan inilah yang selama ini memicu protes peternak di berbagai daerah, termasuk di Magetan.
    Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengintervensi harga jagung.

    Pengawasan terhadap stabilitas harga telur juga harus dilakukan secara serius. Jangan sampai peternak diberi jagung murah, tetapi harga telur terus anjlok tanpa perlindungan pasar yang jelas.
    Bupati Magetan, Bapanas, Bulog, serta asosiasi peternak kini memiliki tanggung jawab bersama menjaga keberlangsungan program ini. Transparansi distribusi, pengawasan harga, dan komunikasi rutin dengan peternak harus terus dilakukan agar persoalan lama tidak kembali terulang.
    Jika program SPHP dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, maka bukan hanya peternak yang diuntungkan.

    Stabilitas produksi telur nasional juga akan terjaga, harga di tingkat konsumen lebih terkendali, dan roda ekonomi masyarakat pedesaan tetap bergerak.
    Magetan telah dipilih menjadi contoh nasional. Kini yang dibutuhkan bukan hanya peluncuran program, tetapi komitmen jangka panjang agar peternak benar-benar merasakan kehadiran negara di tengah sulitnya usaha peternakan saat ini.( RED )

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad