Mengembalikan Pori-Pori Magetan dari Ancaman Banjir
Magetan, Lawutv.com -- Hujan yang turun di wilayah Magetan belakangan ini tidak lagi selalu disambut sebagai berkah. Bagi sebagian warga, terutama di kawasan perkotaan, mendung justru memunculkan rasa cemas akan genangan air yang sewaktu-waktu bisa masuk ke rumah, merusak perabotan, hingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi alarm bahwa persoalan banjir di Magetan bukan semata disebabkan tingginya curah hujan, melainkan juga akibat menurunnya kemampuan lingkungan dalam menyerap dan mengalirkan air.
Tanah yang dahulu menjadi ruang resapan alami kini semakin tertutup oleh pembangunan berupa semen, paving, dan aspal. Akibatnya, air hujan tidak lagi mudah meresap ke dalam tanah dan justru berubah menjadi limpasan permukaan yang langsung memenuhi saluran drainase.
Di sisi lain, banyak selokan dan saluran air yang kondisinya tidak optimal karena sedimentasi lumpur serta tumpukan sampah domestik. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, saluran yang tersumbat tidak mampu menampung debit air, sehingga genangan dan banjir menjadi persoalan yang terus berulang.
Pandangan inilah yang kemudian melahirkan gagasan gerakan “Resik Salurane, Nyerep Lemahe” yang diinisiasi Forum Rumah Kita (FRK). Gerakan tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus solusi nyata untuk mengatasi persoalan lingkungan di Magetan.
Secara sederhana, gerakan ini mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kerja bakti melalui pembersihan dan normalisasi saluran drainase di lingkungan masing-masing. Selokan yang bersih akan memastikan air mengalir lancar menuju hilir tanpa hambatan.
Tidak hanya itu, upaya lain yang dinilai penting adalah mengembalikan daya serap tanah melalui pembuatan lubang resapan biopori, sumur resapan, dan ruang terbuka hijau di lingkungan rumah, sekolah, maupun perkantoran.
Langkah ini dinilai sangat strategis karena tidak hanya mencegah banjir saat musim penghujan, tetapi juga menjadi cadangan air tanah saat musim kemarau.
Namun demikian, penanganan persoalan banjir tidak bisa dibebankan kepada masyarakat semata. Pemerintah daerah juga harus hadir melalui kebijakan pembangunan yang berpihak pada kelestarian lingkungan, terutama dalam pengelolaan drainase perkotaan dan penyediaan area resapan air.
Sinergi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan komunitas sosial menjadi kunci utama agar persoalan banjir di Magetan tidak terus berulang setiap musim hujan.
Pada akhirnya, menjaga Magetan dari ancaman banjir adalah tanggung jawab bersama. Kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan, membersihkan selokan, dan menjaga ruang resapan tanah harus menjadi gerakan bersama demi masa depan kota yang lebih aman dan nyaman.
Magetan kumandhang, yen kabeh tumandang.

Tidak ada komentar