• Breaking News

    Dua SMK Swasta di Magetan Gulung Tikar, Alarm Keras Ketimpangan Pendidikan Kian Nyata



    LAWUTV.COM Magetan – Dunia pendidikan kejuruan di Kabupaten Magetan sedang tidak baik-baik saja. Ketimpangan mencolok antara sekolah negeri dan swasta kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah menelan korban. Tahun ini, dua SMK swasta dipastikan tutup total karena krisis siswa baru.

    Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Magetan, S. Agus Triyono, menyebut kondisi ini sebagai alarm keras bagi keberlangsungan pendidikan swasta. Ia menilai persaingan saat ini sudah jauh dari kata seimbang.

    “Sekolah negeri tanpa promosi saja sudah kebanjiran siswa. Sekarang malah turun langsung ke SMP dan MTs untuk promosi. Ini jelas makin menekan sekolah swasta,” ujar Agus.

    Dua sekolah yang dipastikan berhenti beroperasi mulai Juli 2026 adalah SMK PGRI Kawedanan dan SMK Sendang Kamal Maospati. Penutupan ini membuat jumlah SMK swasta di Magetan menyusut dari 24 menjadi 22 lembaga.

    Fenomena ini, menurut Agus, berpotensi menjadi efek domino. Jika tidak ada perubahan strategi dari pengelola sekolah swasta maupun kebijakan yang berpihak dari pemerintah, bukan tidak mungkin lebih banyak sekolah akan menyusul tutup.

    Namun persoalan ini bukan hanya soal gedung sekolah yang kosong. Ada dampak sosial yang jauh lebih besar—nasib para guru yang kehilangan pekerjaan.

    Agus pun menyayangkan minimnya langkah konkret dari Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan dalam menangani persoalan ini.

    “Guru-guru itu mau ke mana kalau sekolahnya tutup? Mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi,” tegasnya.

    Sebagai langkah darurat, MKKS SMK Swasta Magetan berupaya melakukan distribusi guru ke sekolah swasta lain yang masih membutuhkan tenaga pengajar. Solidaritas antar sekolah dinilai menjadi satu-satunya jalan agar dampak tidak semakin meluas.

    Di sisi lain, Agus juga mengingatkan para pengelola sekolah swasta untuk tidak tinggal diam. Ia menekankan pentingnya inovasi, manajemen yang adaptif, serta kolaborasi antar lembaga.

    “Kalau tidak pintar mengelola dan tidak ada kebersamaan, satu per satu akan menyusul tutup. Ini bukan ancaman, tapi kenyataan yang sudah di depan mata,” pungkasnya.( Gus )

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad