• Breaking News

    12 hari Mereka Menemba Ilmu di Pabrik Darah ( PMI Magetan )

    LAWUTV.COM MAGETAN -; Keselamatan pasien bukan ruang untuk kompromi. Satu kesalahan kecil dalam transfusi darah bisa berujung fatal.

    Menyadari risiko besar tersebut, tenaga kesehatan di Kabupaten Magetan mulai bergerak lebih serius—bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi memperketat standar hingga nyaris tanpa celah.

    Langkah itu terlihat dari pelatihan intensif selama 12 hari yang diikuti tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) RSAU dr. Efram di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Magetan. Pelatihan ini bukan rutinitas biasa, melainkan upaya konkret membangun sistem transfusi darah yang presisi dan minim kesalahan.
    Dokter UDD PMI Magetan, dr. Gita Rahmapuri, menegaskan bahwa titik krusial transfusi justru ada sebelum darah diberikan ke pasien.

    “Yang paling menentukan itu pra-transfusi. Cross matching atau uji cocok serasi bukan sekadar formalitas, tapi penentu hidup mati pasien. Di sini tidak boleh ada asumsi, semua harus terverifikasi,” tegasnya, Jumat (17/4/2026).

    Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dalam praktiknya, kesalahan identifikasi golongan darah atau rhesus masih menjadi ancaman nyata jika prosedur tidak dijalankan secara disiplin. Karena itu, pelatihan ini menuntut ketelitian tinggi, bukan sekadar memahami teori.

    Ketua PMI Magetan, Bambang Trianto, bahkan mengingatkan bahwa kualitas darah yang sudah dijaga ketat di PMI bisa menjadi sia-sia jika terjadi kelalaian di tingkat rumah sakit.

    “PMI ini ibarat pabrik darah dengan standar ketat. Tapi kalau di lapangan ada kesalahan teknis, itu sama saja membahayakan pasien. Ini yang tidak boleh terjadi,” ujarnya lugas.

    Menurutnya, tidak ada ruang toleransi untuk kesalahan dalam pelayanan transfusi. Setiap tahap harus dijalankan dengan prinsip zero error—tanpa kompromi, tanpa kelengahan.

    Salah satu peserta, Anas merasa terbantu akan pelatihan selama 12 hari ini, tidak pernah ditempat dia bekerja melakukan pelatihan seperti ini.

    Pelatihan ini pun menjadi semacam “alarm” bagi dunia kesehatan lokal: bahwa profesionalisme tidak cukup hanya dengan pengalaman, tetapi harus terus diasah dengan standar yang semakin tinggi.

    Harapannya jelas—tenaga laboratorium tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki kesadaran penuh bahwa setiap tetes darah yang ditangani membawa tanggung jawab besar.

    “Kalau semua prosedur dijalankan dengan benar, hasil akhirnya sederhana tapi sangat berarti: pasien selamat dan pulang dengan senyum. Tapi untuk sampai ke sana, prosesnya harus tanpa kesalahan,” pungkasnya.(Gus )

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad