Bangun Literasi Sejarah, Ziarah “Kadang Militan” Jadi Pengingat: Pahlawan Soerjo Jangan Sekadar Nama
LAWUTV.COM MAGETAN - Kegiatan ziarah yang dilakukan komunitas Kadang Militan di makam Pahlawan Nasional R.M.T. Ario Soerjo atau Gubernur Soerjo, Sabtu (18/4/2026), bukan sekadar agenda spiritual. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya menjaga ingatan sejarah di Magetan belum sepenuhnya mendapat perhatian serius, khususnya dari pemerintah daerah.
Komunitas yang digagas para guru dan kepala sekolah ini menunjukkan bahwa inisiatif pelestarian nilai sejarah justru banyak lahir dari masyarakat, bukan dari kebijakan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Salah satu anggota Kadang Militan, Sarno Arbara, menegaskan bahwa ziarah ini merupakan bentuk kepedulian terhadap jasa para pendahulu, termasuk Gubernur Soerjo yang memiliki peran besar dalam sejarah bangsa.
“Kami datang untuk berkirim doa sekaligus mengingat jasa para sesepuh, khususnya Gubernur Soerjo. Harapannya Magetan tetap aman dan damai seperti yang diwariskan beliau,” ujarnya.
Namun di balik kegiatan tersebut, tersirat kegelisahan bahwa figur sebesar Gubernur Soerjo belum sepenuhnya menjadi bagian hidup dalam kesadaran generasi muda. Minimnya penguatan literasi sejarah lokal, serta belum optimalnya pengemasan situs sejarah sebagai ruang edukasi, menjadi catatan penting.
Sarno juga menyebut, inspirasi gerakan ini justru datang dari luar daerah.
“Kami melihat di Blora masyarakatnya sangat menghargai sesepuh. Ini menjadi refleksi, kenapa di Magetan belum menjadi gerakan bersama yang kuat,” ungkapnya.
Hal ini mempertegas bahwa penghormatan terhadap sejarah tidak cukup hanya melalui seremoni tahunan, tetapi membutuhkan komitmen nyata dari pemerintah untuk menjadikan sejarah sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
Sementara itu, perwakilan keluarga ahli waris Gubernur Soerjo, Murries Subiyantoro, mengapresiasi langkah para pendidik tersebut, namun juga mengingatkan pentingnya peran semua pihak dalam menjaga warisan sejarah.
“Ingat Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Magetan punya makam Pahlawan Nasional, tapi sejauh mana ini dikenalkan secara serius kepada generasi muda?” ujarnya.
Menurutnya, kompleks makam tersebut bukan hanya tempat peristirahatan terakhir Gubernur Soerjo, tetapi juga lima Bupati Magetan dari Trah Darmoseputro yang memiliki kontribusi besar bagi daerah. Sayangnya, potensi sejarah ini dinilai belum dimaksimalkan sebagai pusat edukasi publik.
“Ini bukan hanya soal ziarah, tapi bagaimana sejarah ini hidup. Kalau tidak ada upaya serius, generasi muda hanya akan tahu nama tanpa memahami makna perjuangannya,” tegasnya.
Kegiatan Kadang Militan ini pun menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah tidak bisa hanya dibebankan pada komunitas atau individu. Diperlukan langkah konkret dari pemerintah, mulai dari penguatan kurikulum lokal, revitalisasi situs sejarah, hingga program edukasi yang berkelanjutan.
Jika tidak, kekhawatiran akan memudarnya nilai-nilai perjuangan hanya tinggal menunggu waktu.
“Mudah-mudahan ini menjadi pemantik. Jangan sampai masyarakat yang bergerak sendiri, sementara pemerintah justru tertinggal dalam menjaga sejarah daerahnya sendiri,” pungkasnya.( Gus )

Tidak ada komentar