Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Jelang Purna Tugas, Kepala SMAN 1 Parang, Agus Prasmono: Jadi Kepala Sekolah Itu Pengabdian, Bukan Soal Finansial


Magetan, Lawutv.com -- Menjelang masa purna tugas pada 1 Juni mendatang, Kepala SMAN 1 Parang, Agus Prasmono, mengulas perjalanan pengabdiannya di dunia pendidikan. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa menjadi kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif, melainkan bentuk pengabdian penuh keikhlasan.

Agus menyampaikan, selama ini pihak sekolah bersama para guru kerap berinisiatif membantu siswa kurang mampu, bahkan dengan dana pribadi.

“Dari mana uang itu? Bapak Ibu Guru rela menabung sendiri untuk diberikan kepada siswa. Sampai jutaan rupiah, diberikan gratis. Tapi ke depan kemungkinan akan kita seleksi, karena ada sebagian yang menurut saya kurang mendidik,” ujar Agus, saat ditemui redaksi Lawutv.com pada Rabu (04/03/2026). 

Ia menjelaskan, konsep bantuan pendidikan ke depan akan lebih terarah. Jika sebelumnya bantuan diberikan secara merata, kini akan difokuskan kepada siswa yang benar-benar tidak mampu melalui proses survei langsung.

“Bukan berarti kita tidak percaya dengan surat dari desa. Tapi perlu kita dokumentasikan kondisi rumah dan sosial ekonominya. Kalau memang tidak mampu, semuanya kita gratiskan. Tapi yang mampu, harapan kita tetap memberi kontribusi biaya pendidikan,” tegasnya. 

SOROTI EFISIENSI ANGGARAN PENDIDIKAN

Agus juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar kebijakan efisiensi anggaran tidak berdampak besar pada sektor pendidikan.

“Efisiensi jangan dikenakan kepada dunia pendidikan. Pendidikan itu tidak boleh ditunda. Apapun kebutuhannya harus tetap berjalan. Harapan kami, anggaran pendidikan jangan terlalu dipotong,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi masyarakat yang masih sangat membutuhkan dukungan pendidikan menjadi alasan utama agar anggaran tidak mengalami pemangkasan signifikan.

GTT BUTUH PERHATIAN SERIUS

Selain itu, ia turut menyoroti keberadaan Guru Tidak Tetap (GTT) yang dinilai masih membutuhkan perhatian lebih. Dengan keterbatasan formasi ASN dan adanya guru yang pensiun setiap tahun, sekolah masih sangat bergantung pada GTT.

“Tahun ini pensiun empat orang, tahun depan lima orang. Mau tidak mau kita butuh GTT. Tapi kalau hanya dibayar lewat komite, paling Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan. Itu kasihan,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat mengakomodasi GTT agar dapat digaji melalui skema dana pemerintah secara layak.
“Pengabdian mereka luar biasa. Sudah mencurahkan pikiran dan tenaga untuk pendidikan, tapi belum bisa masuk Dapodik dan belum bisa digaji pemerintah. Sekolah hanya mampu memberi sekadar bantuan bensin,” imbuhnya.

EVALUASI PROGRAM MBG

Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak September lalu, Agus menilai program tersebut pada dasarnya sudah terukur dengan baik dari sisi gizi. Namun, ia mengakui masih ada tantangan dalam implementasinya.

“Secara kisi gizi sudah terukur. Tapi kebiasaan makan anak-anak berbeda. Misalnya sayur-mayur, banyak yang tidak dimakan. Jadi sisa makanan setiap hari cukup banyak,” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menyalahkan pihak manapun, baik penyelenggara program maupun siswa.

“Saya tidak menyalahkan MBG-nya, juga tidak menyalahkan anak-anak. Ini soal kebiasaan saja,” ujarnya. 

Ia menambahkan, masyarakat Parang dikenal kreatif. Banyak guru memiliki usaha sampingan seperti beternak bebek, sapi, hingga kambing untuk menambah penghasilan.

PESAN JELANG PENSIUN

Agus Prasmono akan resmi pensiun per 1 Juni mendatang. Ia menyebut saat ini dirinya seperti berada di masa “injury time” sebelum benar-benar mengakhiri tugasnya sebagai kepala sekolah.

“SMA ini ladang ibadah kita. Bisa jadi kita masuk surga atau sebaliknya karena pengabdian di sini. Mari kita ikhlas mengabdi,” pesannya kepada para guru.

Sebelum bertugas di Parang, Agus pernah menjabat di SMA 1 Ponorogo dan menjadi Ketua MKKS Ponorogo. Ia mengaku menikmati setiap proses pengabdiannya, termasuk saat dipindahkan ke Parang.

“Saya nikmati, saya enjoy. Dengan ikhlas, berkah Allah itu luar biasa. Jangan berharap finansial, tapi berharaplah keberkahan dari Allah,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh tenaga pendidik untuk terus membangun karakter generasi muda dan mencerdaskan anak bangsa, khususnya di wilayah Parang.

“Walaupun saya bukan orang Parang, tanggung jawab moral di dunia pendidikan tidak bisa saya pisahkan. Mari kita jadikan ini pengabdian terbaik kita,” tutupnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tim Redaksi Lawutv.com juga mendapat kehormatan menerima sebuah buku yang memuat kisah perjalanan hidup Agus Prasmono. Buku tersebut berisi rekam jejak pengabdian dan perjalanan kariernya di dunia pendidikan. (Gus)

Posting Komentar

0 Komentar