Peringati Hardiknas, Mahasiswa Unesa Gelar Naraya Fest 2026 untuk Wadahi Potensi Tari Tradisional Anak di Magetan
uhbjLAWUTV.COM MAGETAN – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) PSDKU Kampus 5 Magetan sukses menggelar festival lomba tari tradisional tingkat Sekolah Dasar (SD) bertajuk Naraya Fest 2026 di Gedung Budaya Maospati, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sekaligus menjadi implementasi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Naraya Fest 2026 menghadirkan kompetisi tari tradisional kategori solo dan duo yang diikuti peserta dari wilayah Karesidenan Madiun. Festival ini menjadi wadah untuk menggali potensi seni anak sejak dini sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Nusantara.
Suasana Gedung Budaya Maospati tampak meriah sejak pagi hari. Para peserta tampil percaya diri mengenakan beragam kostum tradisional dan membawakan tarian daerah dengan penuh semangat.
Tercatat sebanyak 16 peserta kategori solo dan 7 tim kategori duo turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Ketua Pelaksana Naraya Fest 2026, Rizieq Immanuel, menjelaskan bahwa nama “Naraya” memiliki arti “perayaan manusia”, yang berasal dari gabungan kata Nara berarti manusia dan Raya berarti perayaan.
Menurutnya, festival ini menjadi simbol perayaan kreativitas, kebersamaan, serta potensi generasi muda dalam melestarikan budaya daerah.
“Harapannya dari awal acara bisa berjalan lancar tanpa ada kendala yang mendesak, dan syukurnya semua bisa terkendali dengan baik,” ujar Rizieq.
Ia mengakui tantangan terbesar selama persiapan acara adalah membangun kekompakan antar panitia yang berasal dari kelas berbeda. Meski sempat terjadi miskomunikasi, seluruh panitia akhirnya mampu bekerja sama hingga acara berlangsung sukses.
“Yang paling sulit sebenarnya membangun chemistry antar panitia, karena kami berasal dari kelas yang berbeda. Walaupun sempat ada miskomunikasi, semuanya tetap bisa dikendalikan,” tambahnya.
Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Unesa PSDKU Kampus 5 Magetan, Muhammad Danu Winata, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya Naraya Fest 2026. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi wadah positif untuk mempererat hubungan antara kampus, pegiat seni, sekolah, dan masyarakat.
“Overall acaranya keren banget, melibatkan banyak pegiat seni di sekitar Magetan dan sekitarnya. Pesertanya juga tampil sangat baik,” ungkap Danu.
Menurutnya, pelestarian budaya lokal saat ini menghadapi tantangan besar akibat derasnya pengaruh budaya global. Karena itu, festival tari tradisional dinilai penting sebagai upaya menjaga eksistensi budaya daerah melalui regenerasi generasi muda.
“Tantangan terbesar kita adalah bagaimana melestarikan budaya lokal di tengah gempuran budaya global. Tari akan tetap hidup kalau ada regenerasi penari-penari berikutnya,” tuturnya.
Antusiasme peserta juga terlihat dari semangat para siswa yang tampil di atas panggung. Tiga peserta dari SD Muhammadiyah 3 Sukomoro, yakni Ais, Akni, dan Septia, mengaku merasa gugup sekaligus senang saat tampil di hadapan penonton dan dewan juri.
“Campur aduk,” ujar Ais singkat saat ditanya mengenai perasaannya setelah tampil.
Ketiganya mengungkapkan persiapan lomba dilakukan selama kurang lebih tiga minggu melalui kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah. Selain menjadi wadah pengembangan bakat, mereka menilai tari tradisional mampu melatih fokus belajar sekaligus menjadi aktivitas positif bagi siswa.
Melalui Naraya Fest 2026, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unesa berharap semangat pelestarian budaya Indonesia terus tumbuh di kalangan generasi muda. Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang edukasi budaya yang mengajarkan pentingnya menjaga warisan seni tradisional.(Red )

Tidak ada komentar