• Total Kunjungan: 1945 |

    Breaking News

    Jagong Budaya Mothik Dan ReyogMu Sukses Di Gelar Universitas Muhamadiyah Ponorogo


    LAWUTV.COM l PONOROGO– Upaya pelestarian budaya lokal yang di gelar oleh Universitas Muhammadiyah Ponorogo bersama Pangreksa Mothik Ponorogo (PRAMONO) dengan mengambil tema, " Jejak Warisan dalam Ikhtiar Pelestarian Budaya, ”Acara Jagong Budaya Mothik dan Reyog tersebut sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya berlangsung di ruang Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Selasa (12/5/2026). 

    Agenda seperti ini menjadi ruang pertemuan bagi pegiat budaya, akademisi, komunitas, serta generasi muda untuk mengenal lebih dekat dan Mothik sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Ponorogo. Selain komunitas budaya, acara ini juga dihadiri pelajar SMA dan mahasiswa.
    Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Rido Kurnianto menegaskan bahwa, " kampus memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal, melestarikan, dan mengembangkan budaya lokal.

    Salah satunya adalah Mothik, yang dinilai memiliki nilai historis dan filosofis kuat bagi masyarakat Ponorogo. “Kami akan konsisten mengawal, melestarikan, dan mengembangkan budaya adiluhung di Kabupaten Ponorogo, khususnya Mothik,” tegasnya.

    Menurut Rido, Mothik memiliki karakter unik yang mencerminkan identitas masyarakat Ponorogo. Bentuk senjata tersebut menggambarkan ketegasan, keberanian, serta karakter masyarakat Pornorogo yang asli. "Mothik dengan karakter, bentuk, yang unik ini menurutnya bisa menumpas musuh sekali tebas. Ini menjadi gambaran bahwa orang Ponorogo itu apa adanya, tidak banyak bicara, tetapi tegas,” imbuhnya.

    Dalam acara tersebut tampak hadir Ketua Pangreksa Mothik Ponorogo (PRAMONO) Tjatur Prihandoko, S.H., M.Si. menyerahkan dan menghibahkan beberapa bilah senjata Mothik khas Ponorogo dan di terima langsung oleh Rektor Universitas Muhamadiyah Ponorogo Rido Kurnianto.

    Sementara itu, pegiat Mothik dari Pangreksa Mothik Ponorogo (Pramono) Masrofiqi atau akrab disapa Viky, menjelaskan bahwa Mothik memiliki kaitan erat dengan sosok Warok. Ia menyebut, Mothik dikenal sebagai senjata keseharian para Warok pada masanya. “Mothik itu memang erat kaitannya dengan Warok. Ini senjata keseharian para Warok,” jelas Viky. Ia menambahkan, selama ini Ponorogo lebih banyak dikenal melalui kesenian Reyog. Padahal, daerah tersebut memiliki banyak kekayaan budaya lain yang juga penting untuk dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda. “Ponorogo itu bukan hanya Reyog, tetapi banyak budaya lain yang kadang kita hiraukan, termasuk Mothik. Karena itu, kami mengangkat dan mengenalkan Mothik sebagai senjata khas Kabupaten Ponorogo,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Hamka Arifin turut memaparkan sisi historis Mothik. Ia menyebut, catatan awal abad ke-19 menunjukkan adanya penyebutan senjata masyarakat Jawa yang bentuknya sangat mirip dengan Mothik. “Pada awal 1800-an, Raffles menulis bahwa senjata masyarakat Jawa adalah Menthok. Bentuknya 99 persen sama seperti Mothik,” terangnya. 

    Melalui kegiatan Jagong Budaya ini, Universitas Muhammadiyah Ponorogo bersama Pangreksa Mothik Ponorogo berharap masyarakat semakin mengenal, memahami, dan menjaga keberadaan Mothik sebagai bagian dari identitas budaya Ponorogo dan bukan hanya reyog tentunya. Acara ditutup dengan ramah tamah. ( kus ).

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad