Suratno, Nahkoda Pendidikan dari Sukomoro ke Ponorogo
Lawutv.com Magetan - Perjalanan seorang kepala sekolah bukan sekadar berpindah tempat tugas, melainkan tentang bagaimana jejak kepemimpinan itu memberi makna di setiap institusi yang dipimpin. Sosok Suratno, S.Pd., M.Pd., menjadi salah satu contoh figur pendidik yang kiprahnya patut diperhitungkan di wilayah Mataraman, khususnya Magetan dan Ponorogo.
Saat memimpin SMA Negeri 1 Sukomoro, Magetan, Suratno dikenal sebagai pemimpin yang menekankan keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter siswa. Di bawah kepemimpinannya, sekolah tidak hanya berfokus pada capaian nilai semata, tetapi juga menumbuhkan budaya disiplin, gotong royong, dan semangat berkompetisi yang sehat. Lingkungan sekolah diarahkan menjadi ruang tumbuh yang nyaman sekaligus menantang bagi siswa untuk berkembang.
Gaya kepemimpinannya yang komunikatif dan terbuka menjadikan hubungan antara guru, siswa, dan orang tua berjalan harmonis. Ia tidak segan turun langsung memantau kegiatan siswa, berdialog dengan tenaga pendidik, hingga memastikan program sekolah berjalan sesuai visi. Hal inilah yang membuat SMA Negeri 1 Sukomoro mampu menjaga eksistensinya sebagai salah satu sekolah yang diperhitungkan di Magetan.
Kini, tongkat estafet kepemimpinan itu berlanjut di SMA Negeri 3 Ponorogo. Tantangan tentu berbeda, namun karakter kepemimpinan Suratno tetap sama: adaptif, progresif, dan berorientasi pada kualitas. Salah satu bukti nyata adalah terselenggaranya ajang Smaga Championship, sebuah kegiatan yang bukan hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan bakat dan karakter generasi muda.
Melalui kegiatan tersebut, Suratno menunjukkan bahwa sekolah harus hadir sebagai pusat aktivitas positif bagi siswa. Smaga Championship tidak hanya mengasah kemampuan, tetapi juga menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, dan mental juara. Ini menjadi cerminan bagaimana seorang kepala sekolah mampu menghadirkan inovasi yang berdampak luas, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga masyarakat.
Namun demikian, kepemimpinan bukan tanpa tantangan. Di era yang terus berubah, kepala sekolah dituntut untuk mampu membaca kebutuhan zaman, mulai dari transformasi digital hingga penguatan karakter di tengah derasnya arus informasi. Di sinilah konsistensi dan visi jangka panjang menjadi kunci.
Suratno, dengan pengalaman dan rekam jejaknya, berada pada posisi yang strategis untuk terus mendorong kemajuan pendidikan. Dari Sukomoro hingga Ponorogo, ia membawa satu benang merah yang sama: pendidikan harus membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas.
Pada akhirnya, sosok Suratno mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah sekolah sangat ditentukan oleh arah kemudi pemimpinnya.

Tidak ada komentar