• Breaking News

    “SMK Swasta Berguguran di Magetan, Negara ke Mana? SMK PGRI 1 Justru Bertahan dan Buka Pintu untuk Si Miskin”



    LAWUTV.COM MAGETAN – Satu per satu SMK swasta di Kabupaten Magetan tumbang. Dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya empat sekolah harus menutup pintu rapat-rapat karena kekurangan siswa dan tekanan biaya operasional yang kian berat. Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, satu nama justru tetap berdiri tegak: SMK PGRI 1 Magetan.

    Namun, bertahannya sekolah ini bukan sekadar kabar baik. Ia juga menjadi cermin keras—bahwa ada yang tidak beres dalam tata kelola pendidikan kejuruan, khususnya bagi sekolah swasta.
    Kepala SMK PGRI 1 Magetan, S. Agus Triyono, menegaskan bahwa isu yang menyebut sekolahnya akan tutup adalah keliru.

    “Yang benar, SMK PGRI Kawedanan yang akan tutup, bukan SMK PGRI 1 Magetan. Kami justru mengalami peningkatan jumlah siswa,” tegasnya.

    Data yang disampaikan Agus tak bisa dianggap sepele. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, empat SMK swasta telah gulung tikar:

    SMK Sendang Kamal (2026)
    SMK PGRI Kawedanan (2026)
    SMK PGRI Maospati (tutup 3 tahun lalu)
    SMK Bakti Mulia Tinap Sukomoro (tutup 3 tahun lalu)

    Fenomena ini bukan sekadar angka, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan di Magetan. Pertanyaannya sederhana tapi menohok: di mana peran negara ketika sekolah-sekolah swasta yang selama ini menampung siswa “pinggiran” justru satu per satu mati?

    Di saat banyak sekolah memilih menyerah, SMK PGRI 1 Magetan justru mengambil jalan berbeda—bertahan sekaligus memperluas peran sosialnya. Sekolah ini membuka akses selebar-lebarnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu, bahkan hingga menggratiskan biaya bagi yang benar-benar tidak sanggup.

    “Kami ini bukan hanya sekolah, tapi tempat harapan. Anak-anak yang tidak punya biaya, jangan sampai putus sekolah. Kami siap bantu, bahkan sampai kami bantu mencarikan pekerjaan setelah lulus,” ujar Agus.

    Langkah ini patut diapresiasi, tetapi juga tidak boleh membuat pemerintah berlepas tangan. Ketika sekolah swasta dipaksa bertahan dengan idealisme dan keterbatasan, sementara kebijakan belum sepenuhnya berpihak, maka ketimpangan akan terus melebar.

    Realitas di lapangan menunjukkan, sekolah negeri kian gemuk dengan siswa, sementara swasta kekurangan napas. Tanpa intervensi kebijakan yang adil—baik dari sisi distribusi siswa, bantuan operasional, maupun keberpihakan anggaran—maka bukan tidak mungkin daftar sekolah yang tutup akan terus bertambah.

    SMK PGRI 1 Magetan hari ini memang masih berdiri kokoh. Tapi jika kondisi ini dibiarkan, siapa yang bisa menjamin besok tidak menyusul?

    Di tengah badai, sekolah ini memilih tetap menyalakan lilin. Kini, giliran para pemangku kebijakan untuk menjawab: akan ikut menjaga nyala itu, atau membiarkannya padam perlahan?( Gus )

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad