Kompetensi atau Tersingkir: Jalan Hidup Agus Lawu di Dunia Jurnalistik
MAGETANLAWUTV.COM – Di era banjir informasi, ketika setiap orang bisa menjadi “penyampai berita”, profesi wartawan justru diuji pada satu hal mendasar: kompetensi. Tanpa itu, jurnalistik kehilangan arah, bahkan bisa menjadi ancaman bagi publik.
Di titik inilah Agus Suyanto, yang dikenal sebagai Agus Lawu, berdiri dengan sikap yang tegas. Baginya, profesi wartawan bukan tempat coba-coba, apalagi sekadar mencari pengakuan.
“Profesi tanpa kompetensi itu kosong. Bahkan bisa berbahaya,” ujarnya lugas.
Pernyataan itu bukan retorika. Agus memilih jalan yang tidak instan menempuh proses Uji Kompetensi Wartawan (UKW) secara berjenjang. Ia memahami bahwa dalam sistem Dewan Pers, tidak ada jalan pintas. Seorang wartawan harus melewati jenjang Muda, Madya, hingga Utama—sebuah tahapan yang menguji bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kedewasaan berpikir dan integritas.
Bagi Agus, jenjang itu adalah proses penyaringan. Di tingkat Muda, wartawan belajar dasar. Di Madya, tanggung jawab mulai dipertaruhkan. Dan di Utama, bukan lagi soal bisa menulis, tetapi soal memimpin arah, menjaga standar, dan menjadi rujukan.
“Tidak bisa melompat. Kalau dipaksakan, yang rusak bukan hanya diri sendiri, tapi kepercayaan publik,” tegasnya.
Di tengah realitas masih adanya praktik jurnalistik yang abai pada standar, sikap Agus menjadi semacam peringatan. Bahwa kebebasan pers tanpa kompetensi hanya akan melahirkan kebisingan, bukan kebenaran.
Perjalanan Agus Lawu sendiri tidak steril dari kritik dan dinamika. Namun ia tidak menjadikannya alasan untuk berhenti. Justru sebaliknya, ia menjadikannya bahan bakar untuk terus memperkuat kapasitas diri.
Baginya, tantangan di lapangan adalah bagian dari ujian yang sesungguhnya—apakah seorang wartawan tetap berpegang pada prinsip, atau justru tergelincir oleh kepentingan.
Mengikuti UKW, lanjut Agus, bukan soal sertifikat atau formalitas administratif. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban profesi kepada publik.
“Ini soal integritas. Soal apakah kita layak dipercaya atau tidak,” katanya.
Dari sikap itu, Agus ingin mengirim pesan yang jelas kepada sesama wartawan: berhenti merasa cukup. Dunia jurnalistik tidak membutuhkan wartawan yang sekadar hadir, tetapi wartawan yang teruji.
Ia pun mengajak rekan-rekannya untuk menempuh jalan yang sama—jalan yang mungkin lebih berat, tetapi lebih bermakna.
“Kalau kita ingin profesi ini dihargai, kita harus mulai dari diri sendiri. Ikuti UKW, jalani prosesnya. Kompetensi itu bukan pilihan, tapi keharusan,” tutupnya.
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali tak terverifikasi, sikap seperti inilah yang dibutuhkan. Karena pada akhirnya, jurnalistik bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling bisa dipercaya.( Red )

Tidak ada komentar