Giling 2026 Dimulai, PG Poerwodadie Pacu Produksi dan Janji Angkat Kesejahteraan Petani Tebu
MAGETANLAWUTV.COM– Musim giling tebu 2026 resmi dimulai. Pabrik Gula (PG) Poerwodadie di Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, membuka babak baru produksi dengan tekad besar: meningkatkan hasil sekaligus mendorong kesejahteraan petani tebu.
Pembukaan ditandai dengan tradisi sakral Selamatan Buka Giling, Rabu (29/4/2026), yang berlangsung khidmat dan sarat makna. Prosesi Petik Tebu Temanten menjadi simbol utama—tebu yang diperlakukan layaknya pengantin itu bukan sekadar seremoni, tetapi representasi harapan akan panen melimpah dan keberkahan bagi seluruh rantai produksi gula.
Di balik kearifan lokal yang dijaga, tersimpan agenda besar industri. PG Poerwodadie di bawah naungan PT Sinergi Gula Nusantara tak ingin sekadar menjalankan rutinitas tahunan, tetapi menargetkan lompatan kinerja yang signifikan.
General Manager PG Poerwodadie, Pilipus Setijawirawan, menegaskan bahwa musim giling 2026 adalah momentum krusial untuk membuktikan daya saing pabrik sekaligus menjawab harapan petani.
“Ini bukan sekadar pembukaan musim giling, tetapi awal dari upaya besar kami meningkatkan produksi dan kualitas. Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar proses berjalan lancar dan hasilnya benar-benar berdampak,” ujarnya.
Menurut Pilipus, peningkatan kualitas gula menjadi fokus utama selain kuantitas produksi. Langkah ini dinilai penting agar produk gula nasional mampu bersaing di tengah ketatnya pasar.
Lebih dari itu, musim giling tahun ini juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal. Dengan meningkatnya serapan tebu dan optimalnya proses produksi, kesejahteraan petani diharapkan ikut terdongkrak.
Ketua APTR PG Poerwodadie, Sudaryanto, menyambut optimisme tersebut. Ia berharap sinergi antara pabrik dan petani semakin kuat, sehingga hasil giling tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga memberikan nilai tambah nyata bagi petani.
“Kalau giling lancar dan hasil bagus, petani yang pertama merasakan dampaknya. Ini yang kita harapkan bersama,” katanya.
Kehadiran tokoh masyarakat, termasuk pemangku adat Desa Temboro Haji Sabar, turut memperkuat nilai kebersamaan dalam tradisi ini—bahwa industri gula tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sosial dan budaya masyarakat sekitar.
Selamatan Buka Giling pun menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjelma sebagai simbol kolaborasi antara pabrik, petani, dan masyarakat—sebuah fondasi penting untuk menghadapi tantangan industri gula ke depan.
Dengan target tinggi dan komitmen pada kualitas, PG Poerwodadie kini memasuki musim giling 2026 dengan satu harapan besar: produksi meningkat, industri menguat, dan petani tebu semakin sejahtera. ( RED )

Tidak ada komentar