Meski masih menjadi polemik di sana sini terkait berbagai kekurangan dalam penyajian, manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus diakui sudah dirasakan oleh mereka yang berkaitan langsung dengan program unggulan pemerintah Prabowo Subianto tersebut.
Berikut rangkuman penelusuran kami tentang program MBG di sejumlah tempat di Magetan, Jawa Timur.
Sumirah, seorang petani sayur di Magetang, Jawa Timur, bukan hanya memikirkan batang dan daun yang ia tanam. Bagi dia, setiap sayuran yang terhidang di piring warga adalah cerminan kebaikan komunitas pertanian lokal. Ia berharap orang-orang semakin menyadari pentingnya sayuran segar, sehingga produk lokal makin dihargai dan masyarakat secara keseluruhan makin sehat.
Ketika pemerintah memulai program MBG pada Juli 2025, harapan Sumirah terasa semakin nyata. Ia membayangkan piring-piring siswa yang penuh sayuran lokal di sekolah-sekolah.
Saat itu terjadi, bukan cuma kesehatan anak yang kena sentuh; nilai jual produk tani lokal ikut meningkat, pasar petani makin terbuka, dan komunitas agraris mendapat panggung.
"Dengan adanya program ini, saya berharap masyarakat Magetan dapat lebih peduli dengan produk pertanian lokal dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan," ujarnya saat ditemui, belum lama ini.
Desa yang ditinggali Sumirah tak jauh dari lokasi dapur MBG. Perempuan itu menanam kangkung, bayam, kol, dan sayuran lainnya. Baginya, tanaman bukan sekadar komoditas tapi semacam pesan. Pesan bahwa makanan sehat bisa dibuat dari lokal, dan bahwa petani punya peran utama dalam membangun generasi.
"Saya penginnya petani sejahtera, warganya juga sehat. Saya berharap program bagus ini diawasi dengan baik sehingga tidak terjadi penyelewengan-penyelewengan. Dengan begitu kan tujuan utama dari MBG ini tercapai," ujar Suyatmi dengan optimis.
Kisah Sumirah mencerminkan satu keyakinan sederhana: ketika masyarakat lebih peduli akan sayuran segar, permintaan terhadap hasil tani lokal akan meningkat. Dampaknya berlapis—dari kesejahteraan petani, stabilnya pasokan pangan lokal, hingga kian kuatnya komunitas pertanian. Di balik semua itu ada rasa bangga, bahwa ladang kecilnya dapat ikut berkontribusi membangun kualitas hidup warga.
Di tempat lain di Magetan kami menemui Anita, seorang pelajar SMP yang telah merasakan dampak positif dari MBG. Meski tidak sampai kelaparan, Anita mengakui kondisi perekonomian keluarganya tidak memadai untuk terpenuhinya gizi secara maksimal.
Pada hari-hari sekolah sebelum program MBG hadir, Anita mengaku sering merasa energi cepat habis. Menjelang jam pelajaran sore, matanya mulai berat, fokus pun semacam tercecer oleh rasa lapar. Namun setelah program dapur sehat mulai menyuplai makanan bergizi ke sekolahnya, ada perubahan kecil yang mulai ia rasakan.
"Saya merasa lebih fokus dan tidak mudah lelah saat mengikuti pelajaran di sekolah setelah mendapatkan makanan bergizi di sekolah. Mungkin karena di rumah saya jarang makan daging ayam dan ikan," katanya sambil tertawa malu.
Kalimat Anita terdengar sederhana, tetapi mengandung efek domino: fokus yang meningkat memungkinkan penyerapan pelajaran lebih baik, potensi nilai lebih tinggi, hingga kemungkinan besar meningkatkan rasa percaya diri dan cita-cita masa depan.
Cerita Nita mengingatkan kita bahwa dampak program MBG bukan hanya soal menjaga anak tak kelaparan, melainkan soal membuka ruang bagi generasi muda untuk berkembang. Satu-sendok-demi-satu-sendok, harapan ditakar dengan nutrisi yang tepat.
Kami juga bertemu dengan Agus, seorang tenaga dapur di salah satu SPPG di Magetan. Roni bukanlah nama besar, tapi dari dapur tempatnya bertugas ia menjalankan tugas berat yakni memastikan kualitas dan kuantitas sajian. Kasus keracunan di sejumlah tempat menjadi pemantik bagi dirinya dan teman-temannya untuk memberikan sajian terbaik.
"Tugas kita harus memastikan bahwa makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga lezat dan aman untuk dikonsumsi," ujar lelaki berusia sekitar 30 tahun itu.
Ia mengungkapkan, tantangan terbesar timnya bukan hanya menjamin makanan tidak hanya bergizi tetapi juga lezat dan aman dikonsumsi. Hal itu karena makanan yang disajikan bakal disantap anak-anak kecil yang sebagian di antaranya mungkin susah makan jika kurang lezat.
"Kadang-kadang kan anak susah makan. Jadi bagaimana memasak yang lezat dan sehat, itu tantangannya. Kami tidak khawatir kok, kami kan punya standar-standar kesehatan yang sudah ditetapkan pimpinan," ujarnya.
Beban yang dipikul Agus dan timnya tidak ringan. Di satu sisi, harus menyajikan makanan cukup untuk puluhan hingga ratusan penerima manfaat. Di sisi lain, setiap bahan harus diolah dengan standar higienis—tanpa cela. Jika satu langkah terlewat, keselamatan anak-anak bisa terancam.
Untuk menguatkan langkah pekerja dapur seperti Agus, pemerintah daerah Magetan terkait program ini melibatkan satgas pengawasan dan pendampingan. Dari pernyataan pihak terkait, peluncuran dapur MBG menandai perluasan untuk mendukung percepatan program. Terdapat catatan bahwa awalnya ada dua dapur SPPG yang aktif, lalu tujuh baru diresmikan, menjadi tambahan signifikan bagi upaya pemulihan gizi.
Bagi orang tua, keberadaan MBG juga meringankan perekonomian mereka. Pasalnya, jatah makan untuk anak-anak mereka terbantu dengan suplai MBG di sekolah.
Dewi, 40, mengaku saat ini dirinya tidak lagi memberi bekal makanan untuk anaknya yang bersekolah di salah satu MI Muhammadiyah di Magetan. Sebab saat siang hari anaknya tersebut sudah mendapatkan jatah makan dari sekolah melalui program MBG.
"Ya lumayan. Kan biasanya bawa bekal. Kalau dinominalkan ya kurang lebih Rp10.000 atau malah lebih. Dengan sudah dapat MBG, lumayan buat ditabung. Menu MBG kan juga bagus," ujarnya.
Secara resmi, peluncuran dapur MBG di Magetan menyasar kelompok rentan seperti anak sekolah dan ibu hamil atau menyusui, serta dirancang agar mencerminkan kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bupati Magetan saat peresmian, menegaskan bahwa program ini lebih dari sekadar bantuan pangan. Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, menyatakan program MBG mencerminkan kolaborasi lintas sektor, gotong royong, dan nilai kemanusiaan luhur.
"Makanan bergizi bukan sekadar urusan perut, tetapi cerminan identitas dan solidaritas sosial," ujarnya.
Merujuk laporan, cakupan MBG di Magetan direncanakan mencakup sekitar 130.000 anak dari PAUD hingga SMA/SMK serta ibu hamil dan menyusui, dengan rencana pembangunan bertahap 47 dapur sehat.
Dandim 0804/Magetan, Letkol Inf Hasan Dasuki mengingatkan bahwa sebelum peresmian ada dua SPPG yang berjalan. Kehadiran tujuh dapur baru menjadi tambahan signifikan dalam mendukung percepatan program.
"Peran satgas pengawasan dan pendampingan untuk terus mendorong pembangunan SPPG baru. Program ini bukan tiba-tiba hadir, melainkan melalui fase pendampingan dan pengawasan yang serius," tegasnya.
Berdasarkan pengamatan kami, ketika program Makan Bergizi Gratis mulai bergulir di Magetan, yang terlihat bukan sekadar angka atau logo resmi.
Yang paling hidup adalah wajah-wajah manusia—petani yang menebar harapan lewat sayuran, siswa yang merasakan energi baru di bangku sekolah, pekerja dapur yang menjaga keselamatan satu per satu piring, serta pemimpin dan pendamping yang merajut sinergi. Mereka memberi warna pada sebuah kebijakan menjadi cerita bergulir setiap hari. (*)
0 Komentar